Ibadah Terpanjang



بسم الله الرحمن الرحيم

Melanjutkan bacaan Menjadi Manusia Menjadi Hamba karya Dr  Fahruddin Faiz, sampailah pada Bab Pernikahan setelah mengkaji tentang Fitrah. 

Sebagai pemuda biasa yang belum paham betul arti sebenarnya pernikahan, maka sangat bersyukur ketika dipertemukan dengan Buku ini setelah mengkaji cinta secara umum di dalam Buku Risalah Cinta dan Kebahagiaan karya Haidar Bagir. (Masih tersedia di Play Books jika ingin membaca).

Dalam blog ini saya hanya ingin menyampaikan poin poin yang saya highlight saja ya... 

1. Fiqih Pernikahan
Wajib : menikah dihukumi wajib ketika segala yang ada dalam diri seseorang sudah memadai untuk menikah dan orang tersebut merasa tidak kuat lagi menahan hasrat.

Sunnah : ketika seseorang sudah memenuhi kualifikasi ekonomi mapan, secara fisik sehat, tapi masih bisa menahan hasrat.

Makruh : ketika seseorang sudah ingin menikah, tapi belum layak sepenuhnya. Dan jika orang tersebut nekat melakukannya malah bisa menyengsarakan pasangannya.

Haram : ketika tidak memiliki kemampuan tapi memaksakan untuk menikah

Jadi, kalau Anda jomblo, dan ada yang bertanya kapan menikah, jawab saja level Anda masih makruh. 

2. Alasan Pernikahan
Pertanyaan "Kenapa engkau mau menikah denganku?", jawabannya mungkin bisa bermacam -macam, dan ini 10 alasan yang dibahas dalam Bab Pernikahan dalam Buku :
a. "gombal"-karena cinta. Cinta adalah alasan paling populer.
b. Ingin bahagia, ingin tenang, ingin tenteram. Daripada pacaran sembunyi-sembunyi , lebih baik menikah saja, supaya aman. Bisa juga karena khawatir kehilangan atau khawatir ditinggalkan. Mungkin kalau sudah menikah  kekhawatiran seperti itu akan berkurang. Itulah emotional security.
c. companionship, escape from loneliness. Setelah menikah, kita memiliki pasangan. Bila sebelum menikah setiap ada masalah dipikir sendiri, setelah menikah ditanggung berdua. Masalahmu adalah masalahku juga.
d. parent's wishes atau untuk membahagiakan orangtua. Bisa saja menikah karena keinginan orang tua. 
e. Economic security (menikah karena alasan ekonomi).
f. Ingin bertualang, maksudnya menikah secara diam diam hanya karena ingin tau rasanya saja, setelah itu bertualang lagi, mencari yang lain. Alasannya hanya ingin bersenang-senang. (Nauzubillah Min Dzalik)
g. compatibility and common interest. Misalnya kita bertemu dengan lawan jenis dan mengobrol, lalu kita merasakan ada kecocokan. Kemudian berniat untuk melamar. Itu artinya ada kecocokan dan memiliki minat yang sama.
h. physical and sexual attraction. Tertarik secara fisik.
i. ingin punya anak.  Ingin punya penerus, keinginan punya anak itu insting manusia.
j. alasan religious, social, cultural obligation - tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial, makhluk budaya, dan mengikuti perintah agama. Ini motif normatifnya.

3. Manfaat Pernikahan
Dalam buku ini dijelaskan pernikahan memberikan 6 manfaat yang bisa membuat kita lebih baik:
a. Sense of purpose, yaitu seseorang jadi memiliki tujuan hidup.
b. Drive to work hard - mendorong kita untuk bekerja keras. Ini dilakukan karena ada purpose (keinginan yang harus diwujudkan dalam pernikahan). 
c. Happiness chances - momen bahagia dalam pernikahan.
d. Constant support. Akan terus menerus mendapat dukungan (support) dari pasangannya.
e. Selflessness. Menikah adalah sarana latihan paling efektif agar tidak egois, tidak ingin menang sendiri.
f. better physical and mental health (kesehatan fisik dan mentalnya lebih baik).

4. Psikologi Keluarga
Kedudukan keluarga itu ada macam macam :
a. Vitalized : memiliki ciri banyak kecocokan dalam keluarga. Biasanya komunikasi dalam keluarga level ini berjalan dengan baik. Bukan berarti tidak pernah punya masalah, tapi mereka dapat menyelesaikan masalah dengan cepat karena komunikasi berjalan dengan sangat baik.
b. Harmonious : keluarga dalam level ini, terjalin komunikasi dengan baik, bisa menyelesaikan masalah - hanya saja tidak semua terselesaikan. Ada beberapa yang masih mengganjal. Dalam hal ini terjadi ketidakcocokan, ada perbedaan prinsip di antara mereka. Tapi kehidupan keluarga tetap berjalan.
c. Conventional : keluarga pada level ini memiliki kesulitan dalam komunikasi. Resolusi vkonflik juga tidak berjalan dengan baik. Ketika ada masalah, sulit menyelesaikannya.
d. Conflicted : setiap hari diisi dengan keributan, tidak ada ketenteraman. 
e. Devitalized : keluarga yang kehilangan gairah hidup. Jasadnya bersama tapi batinnya bercerai berai. 

5. Sosiologi Pernikahan
Karena pernikahan itu berhubungan juga dengan Tuhan, maka boleh ada cinta di situ tapi bukan yang utama. Cinta itu bonusnya. Syukur Alhamdulillah kalau kita menikah dengan yang kita cintai. Tapi kadang kadang ada yang menikah dengan orang yang belum dicintai. 

Cinta dalam agama juga dibahas mengenai tingkatannya, ada "cinta romantik" cinta seperti itu ada durasinya. Dia tidak akan menggebu-gebu terus. Jika pernikahan hanya berdasarkan cinta romantik - kalau dalam agama mungkn baru mahabbah, belum sampai mawaddah, apalagi Rahmah. 

Dalam Islam, pernikahan disebut mitsaqan ghalidza ikatan yang kuat. Maka ia butuh pengikat yang sangat kuat. Di awal tadi telah disebutkan beberapa Alasan Pernikahan. Kalau ikatan pernikahan tidak kuat, banyak bersifat untuk senang senang saja, maka pernikahan akan bermasalah. ada 6 hal yang bisa menjadi permasalahan dalam pernikahan: 

a. Komunikasi. Ketika dalam sebuah komunikasi- meminjam teori Jurgen Habermas - tidak mengandung klaim kebenaran, klaim kejujuran, dan klaim ketulusannya, maka komunikasi tidak akan berjalan dengan sehat.

b. Prioritas. Prioritas ditentukan bukan berdasarkan baik atau buruk. Tetapi memilih mana yang harus didahulukan di antara dua kebaikan. Manusia betapa pun hidup berdua, masing masing punya persepsi atau visi yang kadang kadang berbeda. Hidup ini punya banyak pilihan. 

c. division of labor atau pembagian kerja.

d. intimacy  (kedekatan). Biasanya orang menggebu-gebu pada awal pernikahan tapi ketika masing masing sudah memiliki banyak urusan, kedekatan mereka menjadi berkurang. 

e. laws- orang lain yang ada hubungan kekerabatan dengan kita. Ada juga anggota keluarga yang suka merecoki rumah tangga. Berkomunikasilah sebaik mungkin bila sering terjadi masalah.

f. Uang 

6. Filsafat Pernikahan
Dalam buku Menjadi Manusia Menjadi Hamba pada Bab Pernikahan disampaikan beberapa kutipan filsafat Pernikahan dari para filsuf, sufi, dan ahli.
Saya hanya mengambil beberapa saja yaitu dari Nietzsche dan Jalaluddin Rumi:

"Jangan menikah karena cinta" - Nietzsche
Maknanya dalam konteks "cinta romantik" karena seperti yang dijelaskan di atas bahwa cinta romantik itu ada durasinya. Carilah orang yang menurut Anda asyik diajak bicara dan bisa menjadi "sahabat". Jika muncul masalah dalam pernikahan, It is not a lack of love but a lack of friendship that makes unhappy marriages, itu bukan karena kekurangan cinta, tapi karena kurangnya persahabatan.

Kamu memiliki kebiasaan ingin mengubah akhlak lawan jenismu, pasanganmu, untuk membersihkan ketidaksucian dan memperbaiki kesalahan - kesalahan mereka. Menyucikan dirimu sendiri melalui mereka lebih baik daripada mencoba menyucikan mereka melalui dirimu. Ubahlah dirimu sendiri melalui mereka. Temuilah mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walau dari sudut pandangku ucapan mereka aneh dan tidak adil - Jalaluddin Rumi

Perkawinan yang bagus bukanlah ketika dua orang yang sempurna bersatu, tetapi ketika dua orang yang tidak sempurna belajar menikmati perbedaan mereka.

7. Bahaya Seks Pranikah
it breaks God's laws and dishonors Him. 
Menghianati Tuhan dan tidak menghargai pesan - pesanNya.
Melecehkan nilai - nilai yang dibangun oleh masyarakat dan keluarga. 
Hanya demi memuaskan nafsu dan berarti menghancurkan keluarga, orang tua, dan masyarakat.
Akan merasa guilt consciousness.
Maka rasa bersalah itu akan selalu terasa sampai tua.

Demikian sedikit ilmu yang saya bagikan, sebenarnya saya juga sambil membaca lalu menulis di blog ini membatu untuk memahami secara berulang sehingga tidak sekadar ilmu yang lewat begitu saja. Mengingat misi dalam buku ini sangat miracle bagi saya, yakni untuk mengokohkan pondasi jiwa-jiwa anak muda di tengah gaya hidup modern lalu muncul fenomena seolah manusia kehilangan kemanusiaannya (dehumanisasi). Akhirnya, tidak sedikit yang kemudian secara ekstrim memilih "jalan spiritualitas" sampai - sampai tak lagi peduli dengan situasi duniawi. Tugas manusia sebagai Khalifah pun jadi terabaikan. Maka dari itu, saya ingin belajar bagaimana aku ya jadi manusia, ya jadi hamba. 

Wallahul-muwaffiq, Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber: 
Faiz, Fahruddin. 2020. Menjadi Manusia Menjadi Hamba. Jakarta: Noura Books PT. Mizan Publika (Anggota IKAPI)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Masker Organik Namo.id