Fitrah [Karakter Fitrah Manusia]

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan untuk menikmati karunia Allah, salah satunya adalah dapat memperdalam ilmu - ilmu yang semakin dapat mendekatkan kita kepada sang pencipta. 

Bertemu dengan satu buku (yang saat ini saya pegang) merupakan keberuntungan untuk saya. Dalam perjalanan bertemu dengan buku ini, sebelumnya, saya mengenal salah satu channel YouTube yaitu ngaji filsafat, oleh Ustadz Fahruddin Faiz beberapa bulan yang lalu. Lalu kebetulan ada nikmat rizki untuk membeli buku yang berjudul "Menjadi Manusia Menjadi Hamba" yang mana juga terdapat kenikmatan dalam mengkaji setiap lembarnya. MasyaAllah.

Opening pada buku ini, saya baca pada momen yang tepat yakni momen menyambut Hari Raya Idul Fitri. Yang mana, dalam kearifan lokal Indonesia sering kita artikan "kembali fitrah". Namun, sebenarnya apa makna kata Idul Fitri dan fitrah itu? Mari kita urai satu per satu.

Idul Fitri
Idul Fitri sering diartikan dengan "kembali fitrah". Kendati makna harfiahnya bukan itu. Mari kita artikan kata demi kata.
"Id"  itu, kalau dalam bahasa Arab, di mu'jam, lebih dimaknai sebagai "hari raya". Jadi, "Idul Fitri" itu lebih dimaknai sebagai "hari raya fitrah". 
"Fitrah" itu banyak ulama yang mengartikan akar dari kata "futhur" yang artinya "makan pagi". Apabila mengacu pada pemaknaan tersebut, maka Idul Fitri maksudnya kita bisa makan lagi (sarapan).
Tapi, jika dimaknai lebih dalam, Idul Fitri adalah hari ketika kita kembali fitrah, ketika jiwa kita dibersihkan selama puasa pada bulan Ramadhan, lalu kita juga diwajibkan zakat. Nah setelah berhasil melalui proses tersebut, kita "diwisuda" ketika Idul Fitri.

Mari lebih dalam mengenal kata Fitrah
1. Fitrah secara harfiah diartikan sebagi tabiat
Tabiat atau ciptaan atau asal kejadian. Karena itu, kalau ada laki - laki yang menyerupai perempuan orang akan menasihati "mbok ya sesuai fitrahmu aja".
2. Fitrah diartikan suci
Seperti anak yang baru saja dilahirkan ke dunia. 
3. Fitrah adalah "agama" atau "jalan"
Ini ada dalam Al-Qur'an surah Ar-Rum[30]:30 yang jika diterjemahkan "maka luruskanlah wajahmu menghadap pada agama yang lurus, yaitu fitratallah." Maka jika mengacu pada ini Idul Fitri lebih pas diartikan "kembali pada jalur yang benar".


Sesuai pada judul, kita juga akan membahas tentang Karakter Fitrah Manusia
Terdapat empat istilah dalam memahami Karakter Fitrah Manusia
1. Basyar
Basyar itu merupakan unsur fisik.
2. Ins
Ins merupakan karakter fitrah manusia, yakni beradab.
3. Insan
Insan memuat aspek akal Budi manusia.
4. Nas
Nas yaitu manusia secra umum atau kolektif atau juga bisa dikatakan manusia itu ada unsur sosialnya. 

Keempat aspek di atas harus dikelola karena kita diciptakan bukan lain untuk menjadi pemimpin, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Jika berat memaknai "pemimpin'', maka setidaknya kita melanjutkan estafet kebaikan orang - orang terdahulu kita, termasuk nabi dan rasul. Manusia juga diciptakan tidak melalui cara yang main-main, sebab manusia diciptakan oleh Allah dengan  hakikat : mukkaram - mukallaf - mukhayyar - dan majzi.
1. Mukarram 
Mukarram atau dimuliakan. Manusia dimuliakan Allah di muka bumi ini dengan diciptakan dalam bentuk terbaik, ahsanu taqwim, di antara semua makhluk lainnya.
2. Mukallaf
Mukallaf adalah implikasi dari Mukarram. Yaitu, kita punya kewajiban-kewajiban, tanggungjawab, baik secara vertikal maupun horizontal. Vertikal sebagai abdullah (hamba Allah) sedangkan horizontal sebagai khalifatullah.
3. Mukhayyar
Mukhayyar artinya manusia mempunyai potensi, daya untuk pilih. Apa yang dirasakan, dialami, atau dikerjakan manusia dalam hidupnya, semua itu hasil pilihannya sendiri
4. Majzi
Majzi artinya kita akan mendapatkan balasan atas pilihan kita. Jika rajin ada efeknya, jika malas ada dampaknya, jika makan ini ada efeknya, jika minum ini ada efeknya. Inilah hakikat manusia. 

Demikian sedikit ilmu yang saya bagikan, sebenarnya saya juga sambil membaca lalu menulis di blog ini membatu untuk memahami secara berulang sehingga tidak sekadar ilmu yang lewat begitu saja. Mengingat misi dalam buku ini sangat miracle bagi saya, yakni untuk mengokohkan pondasi jiwa-jiwa anak muda di tengah gaya hidup modern lalu muncul fenomena seolah manusia kehilangan kemanusiaannya (dehumanisasi). Akhirnya, tidak sedikit yang kemudian secara ekstrim memilih "jalan spiritualitas" sampai - sampai tak lagi peduli dengan situasi duniawi. Tugas manusia sebagai Khalifah pun jadi terabaikan. Maka dari itu, saya ingin belajar bagaimana aku ya jadi manusia, ya jadi hamba. 

Wallahul-muwaffiq, Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber: 
Faiz, Fahruddin. 2020. Menjadi Manusia Menjadi Hamba. Jakarta: Noura Books PT. Mizan Publika (Anggota IKAPI)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Masker Organik Namo.id