Karya Tulis Ilmiah
BELAJAR SKS (SISTEM KEBUT SEMALAM) DAN HUBUNGANNYA
DENGAN PRESTASI SISWA DI SMAN 1 WONOSARI
Duniarti Ayu Fadhila
XI IPS 3
2018
SMAN 1 WONOSARI
Jln. Brigjen Katamso 04 Wonosari 55813 Tlp 0274-391079 Faksimile 0274-391097
Laman:http://www.sma1wonosari.sch.id surel:info@sma1wonosari.sch.id twitter:@sma1wonosari
HALAMAN PENGESAHAN
Karya ilmiah yang berjudul “Belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) dan Hubungannya dengan Prestasi Siswa di SMAN 1 Wonosari” telah disahkan dan disetujui pada :
Hari :
Tanggal :
Disetujui oleh :
Pembimbing
NIP. 19581115 198903 2 002
Dra. Heryu Rueni
Wali Kelas
NIP. 19770503 201001 1 016
Tri Widodo, S.Pd.
Kepala Sekolah
NIP. 19670815 199001 1 001
Muh Taufiq Salyono, S.Pd, M.Pd, Si
HALAMAN PERSEMBAHAN
Tuhan Yang Maha Esa yang telah melancarkan penyusunan karya ilmiah ini.
Orang tua yang telah memotivasi agar selalu semangat dalam menyusun karya ilmiah ini.
Bapak Taufiq Salyono, S.Pd, M.Pd, Si selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Wonosari yang telah menyetujui karya ilmiah ini.
Ibu Dra. Heryu Rueni selaku pembimbing yang telah memberikan ilmu tentang karya ilmiah.
Bapak Tri Widodo, S.Pd. selaku wali kelas.
Teman – teman kelas XI IPS 1 yang telah membantu memberikan data untuk karya ilmiah ini.
HALAMAN MOTTO
“Banyak orang yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan kesuksesan, namun sayang, mereka kemudian menyerah.”
- Thomas Alva Edison -
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat – Nya karya ilmiah yang berjudul “Belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) dan Hubungannya dengan Prestasi Siswa di SMAN 1 Wonosari” dapat saya selesaikan tepat waktu dan tanpa suatu kendala.
Karya ilmiah yang berjudul “Belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) dan Hubungannya dengan Prestasi Siswa di SMAN 1 Wonosari” ini mengulas tentang sitem belajar kebut semalam atau SKS dan kaitannya dengan prestasi siswa di SMAN 1 Wonosari. Penulis memilih masalah tersebut dikarenakan fenomena belajar sistem kebut semalam atau SKS banyak terjadi di kalangan pelajar. Namun penulis hanya mengambil sampel di lingkup SMAN 1 Wonosari saja.
Pada karya ilmiah ini penulis ingin membandingkan seberapa kuat hubungan antara sistem belajar sistem kebut semalam atau SKS dan prestasi siswa di SMAN 1 Wonosari.
Dari data yang ada, belajar sistem kebut semalam atau SKS memiliki kelemahan dan juga kelebihan. Namun, kelemahannya lebih banyak dibandingkan kelebihannya. Jika dikaitkan dengan prestasi siswa, kelemahan dan kelebihan belajar sistem kebut semalam atau SKS itu tergantung pada kemampuan siswa.
Karya ilmiah ini masih merupakan bibit untuk menjadi penelitian yang lebih luas dan mendalam aspeknya. Kritik, saran, dan masukan saya harapkan dari semua pihak untuk penyempurnaan karya ilmiah ini ke depan.
Selamat membaca.
Wonosari, Maret 2018
Duniarti Ayu Fadhila
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHANii
HALAMAN PERSEMBAHAN iii
HALAMAN MOTTOiv
KATA PENGANTARv
DAFTAR ISIvi
ABSTRAKvii
BAB I PENDAHULUAN1
A. Latar Belakang Masalah1
B. Rumusan Masalah2
C. Tujuan2
D. Manfaat2
BAB II KAJIAN PUSTAKA3
A. Kajian Teori3
B. Kerangka Pikir5
C. Hipotesis6
BAB III METODE PENELITIAN.7
A. Tempat dan Waktu Penelitian7
B. Metode Pengumpulan Data7
C. Sumber Data8
D. Metode Analisis Data8
BAB IV PEMBAHASAN9
BAB V PENUTUP14
A. Simpulan14
B. Saran14
DAFTAR PUSTAKA15
ABSTRAK
Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuannya. Sebagian besar siswa menganggap belajar menjadi patokan untuk mendapatkan prestasi. Namun bagaimana jika belajar dengan sistem kebut semalam atau disingkat SKS diterapkan oleh siswa, apakah berpengaruh terhadap prestasi akademik siswa? Dalam karya ilmiah ini akan dibahas tentang belajar sistem SKS dan hubungannya dengan prestasi siswa.
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Dalam pembelajaran kurikulum 2013 tiap siswa diharapkan menemukan, mengeksplorasi ilmu, dan belajar secara mandiri. Sedangkan guru banyak salah kaprah, karena beranggapan dengan kurikulum 2013 guru tidak perlu menjelaskan materi kepada siswa di kelas, padahal banyak mata pelajaran yang harus tetap ada penjelasan dari guru.
Masih banyak siswa yang belum menerapkan sistem belajar dengan baik. Ilmu yang seharunya didapat di sekolah tidak banyak terserap karena tidak paham dengan materi yang kurang penjelasan dari guru. Jadi, banyak waktu yang terbuang sia-sia saat di sekolah. Hal itu, membuat siswa terpaksa melakukan cara belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) saat akan melakukan ujian. Salah satunya di SMAN 1 Wonosari, Gunungkidul.
Sistem Kebut Semalam atau yang sering menjadi plesetan SKS merupakan sistem belajar yang memaksa siswa untuk mamasukkan sebanyak mungkin informasi ke dalam otaknya dalam waktu yang singkat. Biasanya sistem ini dilakukan sehari sebelum ujian. Strategi seperti SKS tersebut sebenarnya mengurangi istirahat dan menganggu pemahaman siswa. Seolah-olah siswa ingat banyak, tetapi lemah daya tahan ingatannya.
Cara belajar sangat berpengaruh terhadap prestasi siswa. Dalam karya ilmiah ini, prestasi yang dimaksud adalah prestasi akademik. Prestasi akademik adalah proses belajar siswa dan menghasilkan perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, penerapan, daya analisis, sintesis, dan evaluasi. Pengaruh yang terjadi pada fenomena belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) adalah pemahaman tentang materi pembelajaran yang tidak optimal.
Mayoritas siswa di SMAN 1 Wonosari melakukan cara belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) karena mereka merasa bahwa jadwal sekolah yang didapat membuat mereka lelah, adanya kegiatan di luar sekolah seperti organisasi, pengerjaan tugas individu maupun kelompok, dan penerapan belajar yang santai walaupun materi yang harus dipelajari banyak. Dengan berbagai aktivitas tersebut, tentu seorang siswa harus pandai mengatur waktu dan merencanakan kegiatan-kegiatan agar tidak menyita waktu sehingga dapat mencapai target belajar. Namun, kebanyakan siswa masih disibukkan untuk mencari catatan sehari sebelum ujian dilakukan. Hal tersebut, mendorong peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) dan Hubungannya dengan Prestasi Siswa di SMAN 1 Wonosari”.
Rumusan Masalah
Bagaimana fenomena belajar sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) di SMAN 1 Wononosari?
Bagaimana prestasi akademik siswa SMAN 1 Wonosari?
Bagaimana pengaruh antara belajar sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) dengan prestasi akademik siswa SMAN 1 Wonosari?
Tujuan
Mengetahui fenomena belajar sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) di SMAN 1 Wononosari.
Mengetahui perstasi akademik siswa SMAN 1 Wonosari.
Mengetahui pengaruh antara belajar sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) dengan prestasi akademik siswa SMAN 1 Wonosari.
Manfaat
Praktis
Hasil yang positif dari penelitian ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembaca dapat menentukan strategi yang tepat untuk belajar setelah membaca penelitian ini.
Teoritis
Menambah pengetahuan pembaca tentang kelebihan dan kekurangan belajar SKS (Sistem Kebut Semalam).
Penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan untuk penelitian berikutnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Teori
Pengertian SKS
SKS (Sistem Kebut Semalam) adalah sebuah sistem perilaku yang dilakukan oleh siswa ataupun mahasiswa untuk belajar dalam waktu singkat atau semalam suntuk untuk menghadapi tes atau ujian esok harinya. Sistem ini sepertinya sudah melekat dan mendarah daging di kalangan pelajar dan mahasiswa. Mereka yang belajar dengan SKS akan memaksakan diri untuk mempelajari semua bab yang akan diujikan esok hari ke dalam otak dalam waktu semalam. Tidak sedikit siswa menggunakan jam tidurnya hanya karena mereka belum belajar untuk ujian esok hari. Bagi siswa yang aktif dalam berbagai organisasi, kemungkinan sistem ini sangat efektif untuknya dalam menghadapi ujian karena mereka sendiri tidak punya waktu untuk belajar dan sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi. Bagi kebanyakan siswa, belajar dengan cara mencicil tidak akan berhasil dalam menyelesaikan ujian sehingga mereka lebih memilih untuk menerapkan SKS.
Menurut Thomas H. Mentos, dalam bukunya yang berjudul The Human Mind, menjelaskan bahwa apa yang kita pelajari dengan cepat akan dikeluarkan dengan cepat pula. Alhasil, kalau kita belajar ngebut, info yang bisa dipertahankan otak kita hanya 20 persen.
Menurut H.E. Gorst, pengarang buku The Curse of Education, juga mengatakan kalau cara belajar seseorang identik dengan SKS, hasilnya tidak bisa maksimal.
Teori belajar meaningful learning milik Ausubel, yaitu suatu proses belajar di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Ausubel menaruh perhatian besar pada siswa dengan memperhatikan atau memberikan tekanan-tekanan pada unsur kebermaknaan dalam belajar (meaningful learning). Oleh karena itu, belajar dengan sistem hafalan saja seperti SKS (Sistem Kebut Semalam) tidak dianggap sebagai belajar bermakna. Maka menurut Ausubel supaya proses belajar siswa menghasilkan sesuatu yang bermakna, tidak harus siswa sendiri yang menemukan semuanya. Pemerolehan informasi merupakan tujuan pembelajaran yang penting dan dalam hal-hal tertentu dapat mengarahkan dosen/guru untuk menyampaikan informasi kepada mahasiswa/siswa. Belajar dikatakan bermakna apabila informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki oleh siswa sehingga mereka mampu mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimiliki sebelumnya. Faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah strukur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.
Pengertian Prestasi
Prestasi belajar adaah hasil – hasil yang telah diberikan guru kepada murid-murid atau dosen kepada mahasiswanya dalam jangka tertentu (Ngalim Purwanto, 1979).
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dalam suatu usaha (belajar) untuk mengadakan perubahan atau mencapai tujuan (Abu Ahmadi, 1978).
Prestasi belajar pada umumnya dinyatakan dalam angka atau huruf sehingga dapat dibandingkan satu kriteria (Prakosa, 1991).
Dari pengertian tersebut, prestasi belajar selalu terkait dengan hasil yang dicapai karena suatu usaha, ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Faktor lain yang mendukung adalah tingkat kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud ialah :
Intelegent Quotient (IQ) atau kecerdasan bawaan atau faktor bakat. IQ seseorang dapat berkembang naik atau tinggi apabila belajar dengan baik dan latihan dengan disiplin; dan dapat menurun apabila tidak belajar dan tidak latihan dengan disiplin.
Emotional Quotional (EQ) atau kecerdasan emosi, yaitu kemampuan untuk memanage perasaan dan mengenali secara spontan apa yang diinginkan dan sibutuhkan oleh orang lain.
Spiritual Quotient (SQ) atau kecerdasan spiritual atau tingkat keinginan sesorang.
Creativity Quotient (CQ) atau kecerdasan kreativitas, yaitu kecerdasan sesorang dalam berkreativitas belajar.
Bentuk-bentuk kecerdasan di atas lebih pada faktor internal. Sedangkan berikut ini adalah faktor-faktor eksternal yang berpengaruh juga untuk pencapaian prestasi belajar:
Kedisiplinan dalam mematuhi peraturan dan tata tertib belajar baik di sekolah maupun di rumah. Kedisiplinan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Kesehatan jasmani dan rohani sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar, sebaliknya jika fisik sakit-sakitan cenderung prestasi belajar menjadi rendah karena sering izin tidak masuk sekolah dan tidak dapat berkonsentrasi secara maksimal dalam belajar. Demikian juga seorang siswa yang menderita sakit rohani atau mental seperti depresi, stes, dan gangguan jiwa lain tidak dapat belajar secara maksimal.
Untuk mencapai prestasi yang baik pergunakanlah cara belajar dengan teknik belajar mandahului atau tehnik belejar lebih dahulu sebelum guru mata pelajaran di sekolah membahas materi tersebut. Teknik ini dilakukan paling lambat sehari sebelum siswa diberi tugas menggali informasi/studi pustaka.
Kerangka Pikir
Cara pikir karya ilmiah ini dimulai dari menentukan topik yang faktual, yaitu fenomena belajar kebut semalam atau yang disingkat SKS sebagai variabel pertama. Setelah itu, menentukan variabel kedua, yaitu prestasi belajar siswa. Lalu menentukan ruang lingkupnya, yaitu di SMAN 1 Wonosari.
Menganalisis sistem belajar SKS pada siswa SMAN 1 Wonosari dengan cara observasi. Setelah itu, menganalisis prestasi siswa SMAN 1 Wonosari dengan cara mengobservasi nilai akademik yang diperoleh, spesifiknya dilihat dari nilai ulangan harian.
Judul dari penelitian ini terdapat dua variabel, yakni dependen dan independen. Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruh dalam hal ini adalah prestasi belajar siswa SMAN 1 Wonosari yang dipengaruhi oleh belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) sebagai variabel independen.
Kedua variabel tersebut memiliki keterkaitan setelah hasil observasi sistem belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) di bandingkan oleh penulis dengan hasil nilai ulangan harian siswa.
Setelah dianalis ternyata beberapa siswa melakukan sistem belajar SKS dan setelah dibandingkan dengan perolehan nilai akademiknya, siswa tersebut tidak lolos KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Pengaruh ini akan berdampak pada prestasi siswa di sekolah.
Sintesa/kesimpulan yang dapat diperoleh dari kerangka berfikir ini bahwa belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) tidak akan memberikan hasil yang optimal dalam mencapai prestasi. Hasil ini sama dengan teori meaningful learning milik Ausubel yang menyatakan bahwa belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) tidak bermakna.
Hipotesis
Fenomena belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) masih banyak terjadi di kalangan siswa SMAN 1 Wonosari.
Prestasi belajar siswa masih rendah dengan adanya nilai yang di bawah KKM (Kriteria Kelulusan Minimal).
Sistem belajar kebut semalam atau SKS sangat berpengaruh terhadap prestasi siswa di SMAN 1 Wonosari.
BAB III
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di sekolah SMAN 1 Wonosari, Gunungkidul. Spesifiknya pada kelas XI IPS 3. Alasan memilih tempat tersebut karena SMAN 1 Wonosari adalah sekolah yang terfavorit di Kabupaten Gunungkidul dan peneliti hanya mengambil sampel dari kelas XI IPS 3 saja dikarenakan sudah mewakili seluruh siswa SMAN 1 Wonosari. Dengan populasi siswa kelas XI IPS 3 yang berjumlah 31 siswa yang mayoritas memiliki kesibukan masing-masing di organisasi sekolah maupun kegiatan-kegiatan di sekolah dan luar sekolah. Hal itu, membuat mereka melakukan belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) untuk ulangan harian.
Waktu Penelitian
Penyusunan penelitian ini dimulai dari bulan Februari 2018 sampai dengan bulan Maret 2018. Dengan kegiatan dan jadwal sebagai berikut:
NO
Kegiatan Penelitian
Tanggal
1.
Menyusun Rencana Penelitian
20 Februari 2018
2.
Mengumpulkan dan analisis data
21 Februari - 28 Februari 2018
3.
Penulisan Laporan
1 Maret 2018 – 31 Maret 2018
Metode Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan metode studi pustaka dan observasi untuk melakukan pengumpulan data.
Studi kepustakaan adalah kegiatan untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang menjadi objek penelitian. Informasi tersebut dapat diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, internet, dan sumber-sumber lain. Dengan melakukan studi kepustakaan, peneliti dapat memanfaatkan semua informasi dan pemikiran-pemikiran yang relevan dangan penelitiannya.
Pengamatan atau observasi adalah aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya agar mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.
Sumber Data
Peneliti memperoleh data dengan cara mengumpulkan dari beberapa sumber, yakni studi pustaka berupa buku-buku literatur, internet, dan hasil observasi dari tipe belajar siswa dan hasil nilai ulagan harian SMAN 1 Wonosari kelas XI IPS 3.
Metode Analisis Data
Metode analisis data pada karya tulis ilmiah ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan menbandingkan dengan fakta yang terjadi di lapangan. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan salah satu dari jenis penelitian yang termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Adapun tujuan dalam jenis penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kejadian atau fakta, keadaan, fenomena, variabel, dan keadaan yang terjadi saat penelitian berlangsung dengan menyuguhkan apa yang sebenarnya terjadi.
Penelitian ini menafsirkan dan menguraikan data yang bersangkutan dengan situasi yang sedang terjadi, sikap serta pandangan yang terjadi di dala, suatu masyarakat, pertentangan antara dua keadaan atau lebih, hubungan antarvariabel yang timbul, perbedaan antarfakta yang ada serta pengaruhnya terhadap suatu konsdisi, dan sebagainya.
Adapun masalah yang dapat diteliti dan diselidiki oleh penelitian deskriptif kualitatif ini mengacu pada studi komparatif (perbandingan) serta dapat juga menjadi sebuah studi korelasional (hubungan) antara satu unsur dengan unsur lainnya. Kegiatan penelitian ini meliputi pengumpulan data, analisis data, intepretasi data, dan pada akhirnya dirumuskan suatu kesimpulan yang mengacu pada analisis data tersebut.
BAB IV
PEMBAHASAN
Setelah peneliti memaparkan hasil temuan pada bab sebelumnya, kini saatnya peneliti menuliskan hasil dari temuan-temuan saat melakukan penelitian di SMAN 1 Wonosari kelas XI IPS 3 pada bulan Februari 2018 sampai Maret 2018. Melalui metode observasi, penulis akan membahas fokus penelitian yang telah penulis paparkan di bab sebelumnya.
Prinsip Belajar
Belajar merupakan proses yang kontinu. Dalam definisi belajar, kita telah mengetahui bahwa belajar merupakan suatu proses yang tentu saja memerlukan waktu. Kita pun menyadari bahwa pikiran manusia memiliki keterbatasan dalam menyerap ilmu dalam jumlah banyak sekaligus. Oleh karena itu, belajar harus dilakukan secara kontinu di dalam jadwal waktu tertentu dengan jumlah materi yang sesuai dengan kemampuan kita. Sangat perlu dipahami bahwa belajar secara kontinu, walaupun sedikit akan jauh lebih baik dan bermanfaat daripada belajar banyak dalam satu malam sekaligus. Prinsip ini berlaku untuk proses belajar dengan hafalan, pengertian, ataupun ketrampilan.
Mengatur Waktu Belajar
Mengatur waktu belajar bukan hal yang selalu mudah, karena sifatnya sangat individual. Setiap individu mempunyai jumlah dan jenis kegiatan yang berbeda.
Tindakan pertama yang harus kita lakukan adalah menentukan berapa banyak waktu yang tersedia untuk belajar setiap harinya. Waktu belajar di sekolah sebagaimana telah kita ketahui, telah di tentukan dan kita tinggal mengikutinya saja. Jadi, banyaknya waktu belajar yang perlu kita hitung adalah waktu belajar sendiri di rumah.
Setiap individu memiliki cara belajar yang berbeda – beda. Ada yang visual, kinestetik, dan audio. Pokoknya, cara belajar tersebut harus dilakukan secara kontinu. Sesuai dengan salah satu prinsip belajar yang telah dibahas di atas, aktivitas belajar yang dilakukan secara kontinu inilah yang lebih menentukan tinggi rendahnya prestasi belajar siswa.
Belajar Secara Keseluruhan Akan Lebih Berhasil daripada Secara Terbagi – Bagi
Jika kita belajar secara keseluruhan, kita akan dapat melihat dan mengerti dengan jelas bagaimana unsur-unsur yang merupakan bagian dari keseluruhan itu berhubungan membentuk satu keseluruhan atau kebulatan. Cara belajar seperti ini akan memungkinkan seseorang untuk dapat mengerti suatu pelajaran dengan lebih cepat dan mudah.
Harus ada kepastian seberapa lama dan/atau seberapa banyak Anda akan belajar.
Untuk menjelaskan hal di atas, kita akan menggunakan Grafik Recall During Learning. Perhatikan Gambar 2 berikut ini :
Jika batas waktu belajar sudah ditentukan secara definitif, misal 60 menit, 90 menit, 120 menit, dan sesuka Anda, maka akan terbentuk efek awalan dan efek akhiran seperti pada Gambar 1 di atas. Sedangkan jika batas waktu belajar tidak jelas, persis seperti analogi kasus menunggu seseorang tanpa kepastian kapan kedatangannya itu, maka efek akhiran akan terbentuk seperti pada Gambar 2.
Dari gambar grafik di atas terlihat bahwa luas bidang A lebih kecil daripada jumlah luas bidang B1 ( B2 ( B3, atau A < B1 B2 ( B3. Dengan demikian, jumlah informasi yang bisa diserap di ingat lebih banyak adalah cara belajar yang kedua (Gambar 3). Kesimpulannya :
Belajar harus ada jeda / istirahat / break.
Jada / Istirahat / break itu bukan sekadar hanya untuk mengistirahatkan tubuh dan otak kerena lelah belajar, tapi itu adalah yang tidak terpisahkan dari strategi sukses belajar Anda.
Jada / Istirahat / break itu bisa berupa melupakan sejenak kegiatan belajar Anda, ganti variasi meateri belajar, atau tidur yang berkualitas.
Variasikan Materi Pelajaran Anda
Merujuk pada grafik Recall Durring Learning dan strategi di atas, belajar berbagai varisi materi belajar dalam suatu sesi belajar tertentu juga merupakan jeda/istirahat/berak yang bagus. Sebagai contoh, sehabis belajar subyek yang sifatnya eksakta (matematika, fisika, kimia, dan sebagainya), Anda bisa menyelingkan dengan belajar subjek bahasa (bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan sebagainya) atau yang sifatnya kreatif. Lalu setelah satu siklus, kembali lagi pada subjek eksakta. Dan seterusnya.
Ternyatan belajar dengan meberi selingan, justru otak Anda akan meneruskan informasi materi pertama tadi ke gudang ingatan jangka panjang Anda di pikiran bawah sadar. Dan di sana, informasi itu akan terus berusaha mengikat diri atau berasosiasi dengan informasi – informasi lain yang relevan dengannya. Itulah proses membuat ingatan jangka panjang (long- term memory).
Tidurlah yang cukup & Berkualitas
Tidur adalah jeda/istirahat/break yang paling sempurna. Dan tidur adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan belajar Anda. Saat Anda tidur, beberapa hal terjadi di dalam otak, Anda yaitu antara lain:
Otak kiri dan otak kanan menyeimbangkan diri
Otak akan mengonsolidasikan informasi yang telah diingatnya, dengan cara menahan (retainig) informasi yang dianggap penting dan akan melunturkan (decaying) secara cepat informasi yang dianggap kurang penting.
Otak akan mengaitkan informasi baru dengan informasi lama yang sudah tersimpan di otak kita dengan cara bersosiasi dengan informasi – informasi lain yang relevan dengannya.
Jadi saat tidur, sistem memory dan mesin belajar otak Anda persis seperti smatphone Anda sedang di-reboot ulang. Setelahnya akan menjadi lebih enteng dan cepat kerjanya.
Peneliti Jenkins dan Dallenbach mengadakan percobaan terhadap 2 grup anak yang sama umurnya menghafalkan sejumlah daftar kata dalam waktu yang sama pada suatu pagi hari. Grup yang pertama kemudian diminta untuk menulikan apa yang diingat setelah 8 jan dari berakhirnya proses mengingat tersebut pada sore harinya. Jumlah yang berhasil diingatnya hanya 9 % saja. Sedangkan grup kedua diminta untuk melakukan hal yang sama setelah tidur 8 jam berhasil mengingat 56 %. Jadi, tidur adalah kebutuhan mutlak untuk kesuksesan belajar Anda.
Jangan Belajar Sistem Kebut Semalam (SKS)
SKS (Sistem Kebut Semalam) sudah menjadi budaya banyak siswa. Sebanya apa pun materinya diselesaikan dalam 1-2 malam secara beruntun. Penjelasan SKS (Sintem Kebut Semalam) ada 2. Sebagai berikut:
Belajar 3 X 30 menit jauh lebih bagus daripada 1 x 90 menit.
Belajar dengan SKS, otak tidak sempat mencapai titik puncak pemahaman. Titik puncak pemahaman adalah waktu di mana pemahaman & ingatan optimum terjadi.
Belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) mempengaruhi Prestasi Akademik Siswa SMAN 1 Wonosari
Belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) sebenarnya banyak sisi negatifnya yang dapat kita rasakan. Selain memberikan dampak nilai akademik yang tidak optimal dan daya ingat materi yang dipelajarinya tidak lama juga berdampak bagi bagi kesehatan jasmani seperti sakit yang diakibatkan oleh kurang tidur.
Fakta mengatakan bahwa masih banyak nilai akademik siswa SMAN 1 Wonosari yang masih berada di bawa KKM (Kriteria Kelulusan Minimal). Hal itu dilihat dari banyaknya siswa yang mengikuti remedi. Hal lain yang ditimbulkan dari belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) adalah kondisi siswa yang melakukan belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) melemah dikarenakan kurangnya jam tidur karena digunakan untuk belajar.Alhasil pada ke esokan harinya siswa sakit dan mengikuti ulangan susulan.
BAB IV
PENUTUP
Simpulan
Setelah melihat perbandingan serta hasil analisis dari masalah yang dibahas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) masih menjadi metode belajar yang dilakukan oleh siswa SMAN 1 Wonosari, Gunungkidul.
Prestasi belajar siswa SMAN 1 Wonosari dilihat dari hasil ulangan harian siswa yang menyatakan siswa masih banyak yang nilainya kurang dari KKM (Kriteria Kelulusan Minimal).
Keterkaitan antara belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) dengan prestasi belajar siswa sangat erat dibuktikan dengan fakta di lapangan bahwa siswa yang melakukan belajar SKS (Sistem Kebut Semalam), maka nilai yang dicapainya tidak maksimal.
Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti dapat memberikan saran untuk siswa atau mahasiswa, yakni sebaiknya belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) dihindari karena banyak dampak negatifnya.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Reni dan Hawardi. 2011 .Akselerasi (A-Z Informasi Program Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual. Jakarta : Grasindo.
Annisa, Melisa.2017. Penelitian Fenomena Belajar Sistem SKS (Sistem Kebut Semalam). Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang : Tidak diterbitkan.
Darmadi. 2017. Pengembangan Model dan Metode Pembelajaran dalam Dinamika Belajar Siswa.Yogyakarta : Pendidikan Deepublish
Habsari, Sri. 2005. Bimbingan dan Konseling SMA XI . Bandung : Grafindo Media Pratama.
Hakim, Thursan. 2005. Belajar Secara Efektif . Jakarta : Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.
Windura, Sutanto. 2008. Brain Managemen Series for Learning Strategy Be An Absolute Genius. Jakarta : PT.Elex Media Komputindo.
_______________. 2010. Brain Managemen Series Memory Champion @School. Jakarta. PT.Elex Media Komputindo.
_______________. 2017. 3-in-1 Accelerated Learning Tolls. Jakarta. PT.Elex Media Komputindo.
https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2014/04/27/perihal-keunggulan-dan-kelemahan-kurikulum-2013/
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Pengamatan
http://linguistikid.blongspot.co.id/2016/09/pengertian-penelitan-deskriptif-kualitatif.html?m=1
http://www.transiskom.com/2016/03/pengertian-studi-kepustakaan.html?m=1
https://www.youthmanual.com/post/dunia-kuliah/jurusan-dan-perkuliahan/maaf-sistem-kebut-semalam-itu-nggak-efektif-sob
Komentar
Posting Komentar